Landing Page? AIDA!

Landing Page? AIDA!

Jika suatu waktu saya memulai bisnis, maka sudah barang tentu salah satu metode marketing yang akan saya fokuskan adalah Internet Marketing atau kadang juga disebut Digital Marketing, di mana proses pemasaran memanfaatkan fungsi internet secara luas sehingga tujuan marketing agar dapat memperkenalkan produk atau jasanya tercapai.

Di antara poin tentang Internet Marketing yang sering dibicarakan adalah Landing Page, yaitu Halaman Utama tempat (Calon) Konsumen mengetahui dan mengenal Bisnis kita ssecara lebih baik.

Umumnya Landing Page diasumsikan sebagai Website resmi perusahaan (saya tidak tahu jika landing page juga diartikan selain itu). Website ini berfungsi sebagai Induk dari berbagai Media Marketing yang lain semisal Facebook ads atau Instagram.

Dibandingkan Media yang lain, halaman Website bisa memuat informasi yang lebih banyak, lebih detail, dan lebih beragam terkait Perusahaan dan Produk atau Jasa yang ditawarkan.

Website ini juga dapat diibaratkan seperti Toko, sehingga agar (Calon) Pembeli merasa nyaman, Desain Toko peru dibuat bagus dan menarik. Saya sendiri lebih suka desain Web yang simpel, tidak warna-warni, elegan, dan informatif.

Untuk membuat Landing Page yang baik ada sebuah metode yang umum dipakai, yaitu metode AIDA:

  1. Attention: Bagaimana Landing Page dan Copywriting dapat menarik perhatian pembaca.
  2. Interest: Tampilkan sesuatu yang menarik, misal Kisah, Informasi, Fakta, Infografis, Studi Kasus.
  3. Desire: Berikan sesuatu yang membuat pembaca benar-benar ingin memiliki Produk atau Jasa kita.
  4. Action: Bagaimana agar Landing Page mampu membuat pembaca mengambil langkah lebih jauh untuk memiliki atau memperoleh informasi lebih detail tentang Produk atau Jasa. Misal dengan mengiisi Formulir yang kita berikan, data diri dan lain sebagainya.

Kemudian perlu juga untuk memiliki Template Landing Page yang menarik dan sesuai dengan tujuan bisnis kita. Melalui themeforest.net atau landingfolio.com kita bisa membeli template yang kita inginkan.

Selamat membangun Landing Page!

achmadlutfi | 24 April 2020

Pic: unsplash.com/@halgatewood

Mencari Nilai Diri

Mencari Nilai Diri

Saya bertanya-tanya, apa sebenarnya yang paling saya cari di dunia ini? Apakah Harta? Popularitas? Jabatan? Gelar dan semacamnya? Jika iya, lantas di manakah ujungnya? Sampai kapankah saya akan berhenti dan merasa cukup atas pencarian tersebut?

Apakah ketika nilai kekayaan saya sudah mencapai angka 1000 Triliun? Apakah ketika seluruh dunia mengenal saya, mewawancarai saya dalam berbagai kesempatan, memampang gambar saya di sampul majalah Times? Apakah ketika jabatan saya sudah menjadi seorang Presiden atau Komisaris di berbagai bisnis strategis? Apakah ketika gelar akademis sudah panjang berderet-deret hingga orang lain kesulitan mengeja nama saya sendiri?

Apakah saat itu semua tercapai saya akan merasa cukup?

Saya ragu dengan hal itu.

Bukan hanya meragukan saya bisa mencapai kesemua yang saya sebutkan di atas, tapi juga meragukan kedamaian dan rasa cukup yang membuat saya berhenti untuk mengejar dunia yang tak habis-habis.

Saya jadi terpikir akan nilai diri sesungguhnya. Nilai yang saya jadikan acuan untuk saya capai. Nilai yang bagi semua orang adalah positif. Nilai yang menguntungkan bukan hanya untuk diri saya sendiri. Nilai yang tak sekadar materi.

Jika materi adalah satu-satunya yang paling berharga untuk saya, maka saya perlu memastikan lagi apakah ia -segala materi yang saya kejar itu- akan ikut bersama saya ketika meninggalkan dunia nanti?

Apakah segala materi itu akan menjadi sesuatu yang menguntungkan di kehidupan berikutnya? Adakah ia membuat saya jadi penduduk surga yang bahagia selama-lamanya?

Materi duniawi laksana air laut yang jika diminum hanya akan membuat seseorang semakin haus. Dan saya meyakini itu. Karena sifat dasar manusia tak pernah memiliki rasa puas. Manusia selalu mencari sesuatu yang lebih dari yang ia punya, bahkan merebutnya dari oang lain jika itu perlu dan bisa ia lakukan.

Maka kembali tentang pencarian nilai diri, sepatutnya nilai diri adalah nilai yang membuat seseorang damai. Ia menenangkan. Kita memang mengejarnya, kita berupaya mencapainya, tetapi di dalam perjalanannya kita berusaha dengan hati yang gegap gempita.

Nilai-nilai semacam itu ada pada kebaikan, pada sikap kita membantu orang lain, memudahkan yang kesulitan, memberi makan yang kelaparan, nilai-nilai diri seperti itu yang semestinya kita upayakan.

Mungkin sama seperti nilai akan materi yang tak akan ada ujungnya, namun pada nilai diri yang non materiil, kita tak pernah ingin membuat kerusakan, justru sebaliknya, kita mengusahakan perbaikan dan perbaikan, sehingga meskipun tak berujung, capaian-capaian dalam perjalanannya adalah capaian yang mendamaikan.

Nilai diri bukan sesuatu yang membuat kita tampak lebih segalanya dari orang lain, entah lebih kaya, lebih terhormat, lebih berkedudukan, nilai diri justru membuat kita dan orang lain sama sederajat. Kita tidak membuat orang lain silau, namun justru meneduhkan karena kerendahan hati yang jujur. Kita tidak membuat orang lain merasa rendah, namun justru merasa sama-sama beruntung. Beruntung karena keadaan kita yang seperti apapun.

Nilai diri yang baik tidak menguras dan memeras energi orang lain, sebaliknya ia memberi energi dan nafas yang baru. Nilai diri yang baik tidak menonjolkan, sebaliknya ia menyadari dan memahami sepenuhnya bahwa kelebihan yang ia punya bukan semata untuk diri sendiri, namun untuk manusia dan lingkungannya pula.

achmadlutfi | 21 April 2020

Pic: unsplash.com/@vincefleming

Konsumtif

Konsumtif

Ketika kita menjadi seorang pengusaha, pebisnis, penjual atau apapun sebutannya, tentu kita ingin agar produk yang kita jual tersebut laku dan dibeli oleh banyak orang. Sehingga target penjualan kita tercapai, keuntungan terpenuhi dan produksi atau pembelian bisa kembali berputar.

Wajar tentu saja.

Akan tetapi ada satu hal yang membuat hati saya terusik. Yaitu ketika menemukan praktik marketing yang berlebihan dari seorang penjual, dimana ia menawarkan produk atau barang dagangannya dengan mendorong dan bertujuan agar orang yang ditawarkan itu membeli lagi dan membeli lagi. Titik.

Bahkan di ujungnya nanti, ia berharap dan dengan sengaja, agar si pembeli akan membeli produk paling mahal atau produk premium miliknya. Tujuannya apa? Tentu meraih keuntungan.

Lantas bagian mana yang mengganggu?

Adalah ketika tujuan kita selaku pengusaha atau marketer hanya semata mengharap laba dan hanya mengharap barang kita dibeli lagi dan lagi, terus menerus, tanpa kita pedulikan sama sekali apakah barang tersebut dibutuhkan atau tidak oleh si pembeli.

Okay, sampai di sini mungkin kalimat saya di atas bisa dipersepsikan salah. Karena pada satu waktu boleh jadi kita memang tidak tahu -dan tidak perlu selalu tahu- apakah barang yang kita jual dibutuhkan pembeli atau tidak. Tentu akan merepotkan sekali jika dalam tiap transaksi kita bertanya, “Apakah Anda benar-benar membutuhkan produk saya?”

Yang saya maksud adalah ketika kita sejak semula hanya memandang pembeli sebagai sumber uang kita, sumber laba kita, sumber pertumbuhan bisnis kita. Padahal bagi saya, dalam bisnis, kita tetap perlu memandang orang lain, konsumen atau pelanggan, sebagai manusia yang kepadanya kita bermuamalah. Dengannya kita saling bekerja sama. Kepadanya kita menjual dan ia membeli.

Perilaku konsumtif dalam kacamata Islam adalah perilaku yang patut ditinggalkan. Konsumtif dekat dengan sifat mubazir dan mubazir adalah perilaku setan. Musuh abadi kita.

Selayaknya seorang muslim, apabila ia menjadi pengusaha, maka ia menjaga dirinya dari secara sengaja medorong orang lain membeli sesuatu yang tidak ia butuhkan, apalagi memanfaatkan psikologis orang tersebut, dan di dalam kepala kita hanya agar ia membeli dan membeli. Titik.

Barangkali itulah salah satu alasan mengapa pasar, dalam persepktif Islam, adalah salah satu tempat yang buruk. Sebab di dalamnya ada kebohongan-kebohongan, ada kecurangan-kecurangan, ada perilaku-perilaku konsumtif yang sengaja diciptakan, sehingga lahir budaya mubazir dan menyia-nyiakan.

Bersabarlah atas rizki. Bersabarlah atas harta. Sebab rizki dan harta bukan hanya soal banyak atau sedikitnya, melainkan juga soal keberkahannya. Itulah yang akan mengundang ketenangan, kedamaian, dan rasa cukup dalam diri serta keluarga kita.

achmadlutfi | 20 April 2020

Pic: unsplash.com/@photoripey

Penasaran Manajemen

Penasaran Manajemen

Saya nggak tahu, apakah memang pada usia-usia tertentu seseorang akan merasa begitu kepo-nya dengan ilmu-ilmu baru yang benar-benar di luar latar belakang pendidikannya.

Karena ini yang sedang saya alami.

Jika tahun lalu saya begitu haus dengan membaca buku-buku non fiksi, maka tahun ini kehausan itu bertambah, yaitu saya ingin sekali mempelajari ilmu manajemen.

Mulanya karena saya ingin mulai mewujudkan cita-cita sejak kecil: ingin menjadi pengusaha. Ingin mengelola sebuah bisnis. Ingin bisa membuka lapangan kerja seluas yang saya bisa. Ingin bisa berdampak positif bagi banyak orang. Ingin bisa menolong mereka yang kelaparan, kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan, dan berbagai persoalan lainnya.

Intinya, saya ingin menjadi manusia bermanfaat.

Apakah lantas harus menjadi pengusaha? Tentu tidak.

Keinginan berbisnis entah kenapa muncul begitu saja. Mungkin waktu kecil saya lihat pengusaha itu keren aja, banyak waktu buat keluarga, dan salah satu jalur menjemput rizki yang luas. Yah, tentu saja itu pandangan anak kecil yang banyak tidak pahamnya.

Dulu sempat berpikir, bahwa kelak akan mendirikan usaha di bidang favorit saya, yaitu otomotif. Akan tetapi seiring waktu yang berlalu, tampaknya saat ini mimpi tersebut tidak realistis. Baik karena modal, karena kesempatan, juga karena hal lainnya.

Entah apa kesempatan yang akan datang kepada saya suatu saat nanti. Saya masih ingin menjadi pengusaha. Baik di bidang otomotif atau bukan. Karena hal itu menjadi tidak penting. Yang paling penting adalah kemampuan manajerial saya, kemampuan leadership saya, berhasil atau tidak membangun sebuah bisnis yang bertumbuh dan berkembang.

Oleh sebab itu saya mulai fokus mempelajari banyak hal tentang ilmu manajemen yang rupanya luar biasa luas dan beragam. Di samping itu, mau tidak mau saya juga mesti memahami dunia marketing. Betapa tidak, marketing juga menjadi salah satu fondasi pentingnya sebuah bisnis berjalan dan membesar.

Ilmu tentang marketing juga tak kalah hebat, ia sangat adaptif dengan perkembangan zaman. Adaptif dalam pengertian, bahwa ilmu marketing senantiasa selalu dibutuhkan dalam dunia usaha. Lihat saja istilah digital atau internet marketing. Salah satu bukti ilmu marketing yang terus menerus mengikuti langkah kemajuan peradaban.

Lantas untuk mulai memahami soal manajemen dan marketing atau hal-hal pokok tentang bisnis agar saya memahami alur dan bahasanya, maka saya mengumpulkan tema-tema yang perlu saya baca atau pelajari:

Teori Bisnis

Perkenalan dan pemaparan tentang bahasa-bahasa bisnis, seperti Manajemen dan Marketing:

  1. Pengantar dan Dasar-Dasar Manajemen
  2. Manajemen:
    1. Manajemen Keuangan/Akuntansi
    2. Manajemen Pemasaran/Marketing
    3. Manajemen SDM
    4. Manajemen Produksi
    5. Manajemen Operasi
    6. Manajemen Strategis
    7. Manajemen Informasi
    8. Manajemen Pendidikan
  3. Sales dan Marketing
  4. Public Relation
  5. dst.

Gagasan Bisnis

Tentang ide-ide dan gagasan memajukan bisnis, baik dari pelaku bisnis maupun konsultan seperti buku-buku Seth Godin, Hermawan Kertajaya dll.

Metode Bisnis

Digital / Internet Marketing

  1. SEO
  2. SEM
  3. Facebook Ads
    1. CPC / Click Per Cost
    2. CPV / Click Per View
    3. CPA / Click Per Action
    4. CTA / Call To Action
  4. Google Ads
  5. Google Adsense
  6. Google Analytics
  7. Google My Business
  8. E-Mail Marketing
  9. Pixel
  10. Sales Funnel
  11. dst.

Setidaknya itu tema-tema yang saya temukan untuk saya mengerti. Karena saya buta tentang Marketing dan perkara Manajerial sebuah usaha. Padahal tema tersebut ibarat bahasa, bagaimana bisa saya lancar berkomunikasi dan lancar melangkah jika saya gagap dan sama sekali tak paham dengan bahasa-bahasa yang tidak saya pelajari.

Tentu ilmu akan semakin banyak dan bertambah, maka akan semakin banyak pula yang mesti saya pelajari. Namun setidaknya saya memerlukan gambaran yang jelas untuk mulai masuk dan memahami, agar ketika saya memutuskan untuk meluncur ke lautan bisnis, saya bisa berenang dengan baik, tidak lantas tenggelam, lalu hanyut di kemudian hari.

achmadlutfi| 19 April 2020

Pic: unsplash.com/@firmbee

Nulis Lagi!

Nulis Lagi!

Assalamu’alaikum, Blogku yang sudah lama aku abaikan dan hampir kulupakan! Haha.

Akhirnya menulis lagi di sini.

Hampir-hampir saya melupakan blog ini sama sekali, kalau saja tidak dapat notifikasi bahwa domain berbayar ini akan habis tenggat waktunya dalam beberapa hari lagi.

Payah ya. Selalu saja hanya semangat di awal saja.

Tapi ya sudahlah. Lelah juga terus menerus hanya mengomentari diri sendiri dalam permasalahan yang sama.

Mari coba kita tulis sesuatu saja.

Dimulai dari…

Ada ide?

Hehe.

Baik. Dimulai dari, satu: Pandemi Corona masih belum terlalu membaik. Di Jerman, meski Pemerintah telah menyatakan Lockerung atau Pelonggaran Aturan secara perlahan, namun kondisinya masih mencemaskan.

Salah seorang sahabat kami, yang juga Orang Indonesia, masih terbaring di Rumah Sakit karena terjangkit virus tersebut. Sudah hampir satu bulan dan masih dalam perawatan yang amat intensif.

Dua orang Indonesia lainnya, yang juga kami kenal baik, baru beberapa hari lalu dinyatakan positif Corona dan harus karantina mandiri.

Alhamdulillah kami sekeluarga dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Jangan tanya bagaimana rasanya satu bulan ini hanya berdiam diri di rumah, apalagi putra kami baru berusia 3,5 tahun yang mana sedang senang-senangnya bermain di luar.

Tapi sekali lagi, demi keadaan yang lebih baik dan keselamatan semua orang, tentu kami juga ingin memberikan upaya yang terbaik.

Kedua, saya lagi suka sekali dengan tema Wirausaha, Bisnis, Finansial Personal dan Bisnis, Optimalisasi Digital dan Internet Marketing, dan Self Development.

Lho kok banyak?! Haha

Sejak Pandemi ini saya cukup antusias mengembangkan kemampuan diri dalam hal manajerial, terutama dalam sudut pandang bisnis. Saya sedang sangat ingin sekali memperoleh amanah atau tanggung jawab mengelola sebuah usaha. Gatel sekali rasanya ingin memimpin, mengatur strategi, dan seterusnya.

Ketiga, saya ingin jadi kaya raya.

Ambisius? Iya.

Berlebihan? Mungkin iya.

Keterlaluan? Bisa jadi iya.

Duniawi? Tidak sepenuhnya.

Saya ingin menjadi orang yang sejahtera, kaya dalam finansial, agar bisa membantu orang lain lebih banyak lagi. Sedih sekali mendapati banyak orang susah yang tertimpa sakit, apalagi dengan sakit berat yang butuh banyak biaya dalam pengobatannya.

Sedih sekali banyak orang susah yang nggak bisa sekolah, nggak bisa memperoleh pendidikan, nggak mendapatkan pendidikan yang layak, mungkin juga buta huruf dan gagap teknologi, terus menerus begitu hingga berkeluarga dan berketurunan.

Saya ingin membantu lebih banyak orang. Dan lebih banyak lagi.

Semoga Allah mudahkan.

Ya, mungkin itu dulu yang ingin saya sampaikan untuk memulai postingan di blog ini lagi. Postingan pertama di tahun 2020, padahal sudah pertengahan bulan di bulan keempat. Haha.

Selamat beraktivitas dan jaga kesehatan!

Pic: unsplash

Tetaplah menyala meski bagimu kamu hanya sekedar lilin dalam gulita yang luas. Cerita tentang cahayamu akan terus benderang, meski apimu telah lama padam oleh usia yang tak dapat kau hindari.

Achmad Lutfi

Pic: unsplash.com/@brianna_santellan

Pejuang dalam Demokrasi

Pejuang dalam Demokrasi

Jika demokrasi adalah tentang keterwakilan, maka sikap, suara, apalagi keputusan seseorang yang dijadikan wakil tak boleh berdasarkan atas perasaan-perasaan atau dugaan-dugaannya sendiri, sekalipun ia benar.

Menjadi pemikul amanah dalam alam demokrasi menuntut seseorang untuk menggunakan telinganya jauh lebih banyak untuk mendengarkan suara orang lain bahkan sebelum ia mendengarkan suaranya sendiri. Ia mesti berjiwa tegar, tegar untuk mau menyimak suara seperti apapun. Entah dengung yang tak jelas. Entah nyaring teriakan yang dibawa seorang miskin. Entah isak seorang ibu yang pundaknya hampir patah membawa beban hidup segenap keluarganya.

Prinsip-prinsip demokrasi yang bersesuaian dengan hakikat musyawarah tak hanya bicara tentang pemberian kepercayaan. Lantas ia yang pergi menuju gelanggang berjuang sendiri, mengambil sikap sendiri, menganggap kepercayaan atas dirinya adalah sepenuhnya tentang kemampuan yang ia miliki, tentang kecerdasannya, tentang pengalamannya, tentang tekad dan daya juangnya, yang jika disimpulkan kesemua itu ia anggap hanya tentang dirinya sendiri.

Berdirilah, langkahkan kakimu kepada asal suara-suara itu. Simak mereka sebagaimana mereka menyimak kata-kata dan cerita hidupmu sehingga kepercayaan itu mereka limpahkan di atas pundakmu. Resapi nyanyian keluh yang beragam itu, rasakan keinginan mereka, meski tak mungkin semua kan terpenuhi tetapi pastikan, bahwa apapun keputusanmu setelah ini, tak lain adalah setelah kamu memahami apa yang terjadi sebenarnya.

Jika demokrasi adalah tentang keterwakilan, maka siapapun tidak sedang berjuang sendirian, sebab ini semua tentang kebersamaan. Maka seseorang yang menanggung beban kepercayaan, ia berjuang setelah mendengar, ia pun berjuang setelah berbicara. Bukan membeberkan strategi yang akan ia gunakan dalam berjuang, melainkan menyampaikan sebuah keterus terangan tentang sebab dan tujuan atas langkah yang diambil, karena keterwakilan dan kebersamaan menuntut dua hal besar itu, mendengarkan dengan tulus dan berbicara dengan penuh kejujuran. 

Lalu apapun hasil perjuangan yang ditempuh, maka mereka yang mempercayaimu tidak akan pergi kemana-mana, sebab hati mereka telah bersama dengan hatimu, dan dalam tiap langkah dan keputusanmu mereka seakan melihat diri mereka sendiri.

©achmadlutfi | 13 Juli 2019

Pic: unsplash.com/@exxteban

Nulis Buku

Nulis Buku

Beberapa hari lalu saya sempat menulis di tumblr, bahwa saya sedang bersusah payah menyelesaikan sebuah buku – sebetulnya rencana ini sudah lama sekali sejak zaman majapahit – namun hingga hari ini masih saja mengendap di bawah kumpulan draft dan tidak kunjung rampung.

Sampai kemudian tulisan ini Attitude Nomor Satu, Karya Nomor Dua menjadi pengingat bahwa, “Hey, semangat dong kalau beneran mau bikin buku! Semangat dong kalau beneran mau berbagi inspirasi, masa dari dulu cuma cita-cita aja, lama-lama jadi omong kosong, mana nih militansinya?!”

Yak! Kata itu! Militansi. Mantap banget kedengarannya, bukan? Maka saya pun mencoba beranikan diri menyentuh naskah yang hampir menjadi fosil dan legenda. “Legenda Naskah yang Tak Pernah Selesai” Haha. Lucu sekali.

Bismillah, mudah-mudahan setelah ini mulai nulis lagi. Mulai serius lagi bikin bukunya. Pingin banget bisa berbagi kepada lebih banyak orang. Rencananya buku ini berisi kumpulan cerita. Mungkin dengan gaya yang agak santai, namun diupayakan tetap berisi, supaya bisa jadi teman duduk kamu di sebuah kedai kopi dalam gemerintik hujan yang syahdu.

Dan kemudian… jiwa delusiku pun menyala-nyala. Iseng-iseng bikin cover bukunya dulu. Hahaha.

Apa-apaan ini. Dasar prokrastinator handal. Penulis lain bikin naskahnya dulu sampai selesai, ini malah depannya dulu. Tapi nggak apa-apa lah ya, sebab kalau lihat covernya ku jadi bertambah semangat buat nulis. Semoga nanti kamu mau pesan ya, mau baca dan ada manfaat yang bisa kamu petik. Insya Allah ini akan jadi proyek berbagi dengan yang lain juga. Supaya jadi ladang kebaikan yang panjang dan mengalir sampai jauh. Aamiin.

Salam, Achmad Lutfi

Pic: unsplash.com/@aaronburden

Islam dan Integritas

Islam dan Integritas

Dahulu sewaktu Islam datang, ia tak serta merta menawarkan kepastian pengaruh, kekuasaan, kedudukan, atau gelimang harta. Justru sebaliknya, memilih Islam berarti membuka kemungkinan hilangnya semua keistimewaan itu.

Kesetaraan dengan mantan budak. Kesulitan akses atas kekuasaan. Kehilangan pengaruh dan nama besar. Pemboikotan yang mengancam bisnis yang telah terbangun. Kekurangan harta. Bahkan siksaan fisik. Semua itu nyata dan terjadi.

Tetapi Islam tetap hadir. Islam tetap datang dan menawarkan gagasannya akan perbaikan individu dan lingkungan. Perbaikan dalam kacamata Islam yang mengedepankan nilai ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, keamanan, perbaikan ekonomi, serta berbagai asas kepedulian atas sesama.

Islam tak membantah kemungkinan hilangnya keistimewaan seseorang setelah ia memeluk agama ini, namun Islam mengajak pada perbaikan yang bersesuaian dengan kebutuhan dasar manusia. Menjamin hak-hak tiap individu. Serta mendorong kemajuan dan kesejahteraan yang merata.

Tetapi sekali lagi, semua itu, pada masa-masa itu, masih dalam tataran nilai dan belum terbukti sebab Islam baru lahir.

Memilih Islam pada waktu itu adalah keputusan yang amat sangat berat. Hidup mati bagi sebagian orang. Maka mereka yang pertama-tama menjadi muslim, memilih agama ini dengan kesadaran sendiri, kelak akan menjadi pembela terdepan. Orang-orang yang paling sabar menjalani hidup. Paling sungguh-sungguh mengamalkan dan menyebarkan nilai-nilai Islam.

Islam tidak bisa dipilih tanpa integritas. Tidak bisa dipilih tanpa kerelaan berkorban. Tidak bisa dipilih jika hanya ingin kemudahan dan keuntungan. Atau selalu menang dalam setiap peperangan. Pada waktunya, mereka yang lemah keyakinan dan integritasnya akan menyerah dan kembali pada keadaannya semula.

Daya tahan kita akan selalu diuji. Kesabaran kita akan selalu dimatangkan. Cara kita memandang harapan atas hidup yang lebih baik akan selalu dikokohkan. Setiap ujian itu adalah pertanyaan kembali tentang sikap kita, tentang keputusan kita memilih Islam, tentang keyakinan kita memilih barisan.

Pada akhirnya seorang muslim adalah seorang manusia yang teguh hati. Siap berpihak pada kebenaran dan keadilan. Karena seorang muslim adalah seseorang yang memiliki integritas.

©achmadlutfi | 21 Mei 2019

Pic: unsplash.com/@negafolk

Cerpen: Selma

Sempurna. Ia sempurna sekali bagiku. Ia sempurna dalam ketidaksempurnaannya. Rupanya benar kata orang, bukan cantik yang menjadikan cinta, tetapi cinta yang menjadikan cantik. Dan aku, berkali-kali jatuh cinta padanya.

Diam-diam kupandang tingkahnya di depan cermin. Sejak tadi. Sejak ia bertanya, jilbab warna apa yang aku suka untuk dikenankanya. Padahal aku selalu suka warna apapun yang ia kenakan. Karena bagiku selalu sama hasilnya, cantik.

Ia masih mematut-matut dirinya di depan cermin, bersiap-siap untuk makan malam kami di sebuah restoran di atas bukit. “Aku ingin melihat bintang.” begitu pintanya. Aku pun setuju, bahkan sangat setuju. Karena malam ini adalah malam yang spesial bagi kami, tepat dua tahun kami menikah. Rumah tangga yang masih terbilang muda, semuda kandungan di dalam rahim istriku yang baru 120 hari.

Ingin sekali rasanya, ku sampaikan pada Ibu tentang keadaan menantunya kini. Tentang Selma yang dahulu sempat membuatnya risau.

“Kamu yakin ingin menikahi Selma?” tanya Ibuku suatu malam, tepat sebelum aku meminang gadis berwajah oriental itu.

Aku mengangguk mantap. “Insya Allah aku yakin, Bu.”

Ibu terdiam. Melamun.

“Ada apa? Apa Ibu keberatan?”

“Tidak, Nak. Ibu tidak keberatan. Hanya saja ada sesuatu yang sedikit mengganjal di hati Ibu.”

“Apa itu, Bu?” Aku mencoba menerka dalam hati, namun tak yakin.

“Nak, kamu itu seorang Ustadz. Lulusan Madinah dan bertahun-tahun belajar di sana. Ilmu agamamu sudah cukup luas. Apakah tak sebaiknya, kamu memilih calon istri yang lain? Yang sepadan, yang ilmu agamanya tak terlalu jauh denganmu?”

Aku mulai mengerti kegusaran Ibu. Kegusaran yang sempat terpikir juga olehku, tapi kini sudah hilang sama sekali.

“Apakah karena Selma seorang muallaf, Bu?”

Ibu mengiyakan. “Itu salah satunya. Ibu khawatir, bagaimana nanti ia mendidik anak-anakmu agar shalih dan shalihah? Mengurus rumah tangga itu tak mudah, terlebih agar tetap sesuai dengan norma-norma agama.”

Aku tak menyalahkan Ibu karena berpikir demikian. Tidak sama sekali. Aku memang harus realistis. Selma baru menjadi muslimah setahun yang lalu, begitupun dengan kedua orang tuanya. Bacaan qur’annya belum lancar. Hafalannya pun masih sangat sedikit, baru beberapa surat-surat pendek.

“Apa yang membuatmu jatuh cinta padanya?”

“Akhlaknya, Bu. Ia santun sekali.”

Ibu menatapku lekat-lekat, “Apa kamu sudah shalat istikharah sebelum melamar Selma?”

“Beberapa kali. Hasilnya, aku semakin yakin.”

“Dan semakin cinta?”

Aku tersenyum. Mengangguk malu-malu.

“Sebetulnya, wanita seperti apa yang kamu pinta pada Allah agar menjadi jodohmu?”

“Sederhana saja. Pada-Nya aku meminta agar diberikan wanita yang shalihah dan makmum yang baik.”

Ibu menarik nafas dalam-dalam. “Baiklah, Nak. Bila kamu memang sudah benar-benar yakin, maka Ibu juga tak akan ragu lagi. Pesan Ibu, tetaplah yakin pada Allah, bahwa Ia akan mengabulkan setiap doamu, sekarang atau nanti.”

Aku mencium tangan Ibu. Berharap doa dan restu terbaik darinya. Sejak malam itu, aku belajar untuk semakin yakin akan indahnya rencana Tuhan, akan kebaikan-Nya memenuhi segala permintaan atas apa yang hamba-Nya butuhkan.

Jodoh. Perkara yang tak satu manusia pun betul-betul tahu. Ia murni kuasa Tuhan. Sangat amat rahasia. Langit pun menutup rapat-rapat dan enggan membocorkannya walau sedikit. Barangkali kita memang tak perlu tahu, hanya perlu berusaha untuk menjadi lebih baik setiap waktu. Memantaskan diri atas segala kasih sayang-Nya dalam bentuk apapun.

Ku kira, makmum yang baik adalah makmum yang sama luas ilmunya dengan sang imam, atau lebih. Namun rupanya tak sesederhana itu, walau tak sepenuhnya salah. Sebagaimana dalam shalat, makmum yang baik adalah makmum yang mau mendengarkan sang imam, mengikutinya dan bersedia mengingatkan bila ada kesalahan. Dan bagiku, ia menjelma dalam sosok Selma.

Bu, lihatlah. Menantumu kini sudah banyak berubah. Ia wanita yang shalihah, yang sangat mencintai Al-Qur’an. Bacaannya semakin fasih, hafalannya pun kian bertambah. Jilbabnya, Bu, jilbabnya tak seperti dulu lagi, ia kini tak ragu apalagi malu mengenakan jilbab segi empat dan lebar itu. Anggun sekali. Pun dengan akhlaknya, bagaimana ia bersikap, bagaimana ia berucap. Indah sekali.

Aku sangat beruntung memilikinya, Bu. Sangat ikhlas memiliki istri seperti Selma.

“Kak, udah cantik belum?”

Tiba-tiba Selma sudah berada di hadapanku, membuyarkan lamunanku dengan pertanyaan yang membuatku mengernyitkan dahi, “Emangnya pernah kamu nggak cantik?”

Achmad Lutfi
Wolfsburg, 22.09.2012

error: Content is protected!