Buku Carnegie Pertama

Buku Carnegie Pertama

Kesalahan terbesar seorang dokter adalah ketika ia hanya mencoba menyembuhkan tubuh sang pasien, tanpa memikirkan kesehatan jiwa pasien tersebut. Padahal tubuh dan jiwa adalah satu dan tidak dapat ditangani secara sendiri-sendiri.

Plato

Akhirnya saya membeli buku karya Dale Carnegie dan mulai membacanya. Sorge dich nicht, lebe! menarik minat saya seketika membaca judulnya yang kalau di bahasa inggriskan menjadi How to Stop Worrying and Start Living.

Salah satu tema bahasan buku yang saya suka memang yang berkaitan dengan motivasi, pengembangan diri, karir dan sejenisnya. Jangan tanya kenapa, karena yang saya tahu bahwa saya nyaman membaca tema-tema tersebut dan senang membantu diri serta orang lain untuk berada dalam keadaan perasaan terbaik sehingga wajah yang resah menjadi lebih tenang dan bisa menerima keadaan meski ia berat dan sulit.

Saya seorang Melankolis-Plegmatis. Itu jelas dan sangat tampak. Orang bahkan dapat dengan mudah menduganya lewat tulisan-tulisan saya, tanpa pernah bertemu langsung.

Apa yang dibicarakan oleh Carnegie dalam buku ini adalah hal umum yang cukup sering kita dengar. Tentang buruknya rasa khawatir yang berlebihan dan bagaimana agar kita lebih memikirkan hari ini ketimbang sibuk meratapi masa lalu atau bergantung terlalu jauh pada masa depan, sehingga lupa untuk menikmati dan menjalani hari yang tengah berlangsung.

Meski baru sampai pada halaman 65 tetapi ada banyak sekali hal-hal positif yang saya dapatkan di sini. Barangkali juga karena cocok dengan situasi saya belakangan ini.

Rasa khawatir yang begitu mudah muncul dalam hati dan pikiran kita akan mempengaruhi keputusan-keputusan yang akan kita buat. Bahkan langkah yang lebih kecil dari itu, misalnya menolak menjawab pertanyaan sederhana atau ragu-ragu menjawab panggilan telepon karena bayangan-bayangan buruk yang bisa terjadi. Yang lebih parah adalah ketika kekhawatiran yang tertanam begitu kuat sehingga kemudian membuat kesehatan tubuh dan jiwa kita terganggu.

Itulah aspek utama yang dibahas oleh Dale Carnegie sampai halaman 65 yang saya baca.

Saat ini dorongan agar saya menulis buku dan menerbitkannya terasa amat sangat kuat. Tetapi ada rasa ragu yang selalu menghambat saya, juga mengganggu konsentrasi untuk menghasilkan karya yang sebaik-baiknya. Kadang khawatir buku saya tidak akan ada yang mau baca. Khawatir buku saya hanyalah sampah. Khawatir penilaian dan respon orang diluar dugaan saya. Serta kekhawatiran-kekhawatiran lainnya yang tidak perlu dan tidak penting.

Pada kenyataannya terlalu banyak rasa khawatir tidak akan membawa kita kemana-mana. Kita berhenti mengejar cita-cita. Kita berhenti menyelesaikan masalah. Kita berhenti percaya bahwa untuk menggapai puncak tertinggi dimulai dengan langkah pertama. Mungkin kecil. Mungkin sederhana. Tetapi itu amat sangat berarti.

Saya harus mengurangi perasaan khawatir yang berlebihan itu. Kemudian fokus pada buku yang ingin saya terbitkan. Bagaimanapun nantinya. Menyenangkan atau tidak pada akhirnya. Yang terpenting adalah bagaimana saya tetap merasa nyaman dan senang dalam menulis, menciptakan karya yang bagi saya itu hal terbaik yang dapat saya lakukan hari ini.

Bismillah.

Indonesia Harus Lebih Baik

Selasa, 30 April 2019. Pagi hari mendapati berita tentang korban meninggal dan sakit karena kelelahan menyelenggarakan pemilu jumlahnya meningkat.

Innalillahi wa inna ilahi raaji’un.

Seorang yang beriman tentu mengembalikan semuanya kepada Tuhan. Percaya bahwa ini ketentuan dan kuasaNya. Akan tetapi, kita tetap tidak boleh menganggap penyebab kematian ini adalah sebuah kewajaran.

Tidak. Tidak ada kewajaran yang ditimbulkan oleh kelelahan karena pekerjaan. Di sana ada faktor-faktor kelalaian manusia yang menjadi penyebabnya. Terutama manusia-manusia yang bertanggung jawab menyelenggarakan pemilu dalam level Pejabat Negara.

Mereka yang wafat adalah para petugas. Sementara pihak yang seharusnya menjadikan sistem pemilihan ini berlangsung dengan baik dan lancar, jelas sekali kelalaiannya hingga mengakibatkan korban meninggal sedemikian banyak.

Indonesia harus lebih baik. Indonesia harus punya pemimpin yang tegas. Yang mengerti bagaimana seharusnya memimpin. Yang paham bahwa Indonesia ini luas luar biasa. Penduduknya banyak dan terus bertambah. Oleh sebab itu ilmu dasar kepemimpinan amat sangat harus ia kuasai.

Pemimpin tidak boleh sekadar berada dalam wilayah koordinasi dan pendelegasian tugas. Memberikan kuasa penyelenggaraan pemilu kepada KPU dan Banwaslu sepenuhnya, lalu lari sama sekali dari tanggung jawab atas hal-hal yang tidak diinginkan sebelum semua terjadi, saat berlangsung, juga selepas pemilu. Pemimpin -dalam hal ini Presiden– harus selalu menjadi kepala negara yang mengawasi dan memastikan bahwa penyelenggaraan negara dalam berbagai aspek berjalan dengan baik.

Kita harus sadar dan menerima bahwa korban-korban yang jatuh akibat pemilu adalah kesalahan besar yang tidak boleh lagi terjadi. Partisipasi kita sebagai warga negara juga tidak boleh diganggu dalam mengkritik pemerintah agar negeri yang kita cintai ini, negeri yang menjadi rumah kita bersama, adalah negeri yang aman dan nyaman bagi siapapun.

Mengkritik adalah hak kita dan mengkritik adalah upaya sebuah negara demokrasi mencapai keadilan, kesejahteraan, dan perbaikan dalam berbagai bidang. Tidak ada pemimpin yang tanpa cacat. Tidak ada keputusan negara yang selalu sempurna. Maka upaya-upaya ke arah kesempurnaan itu, tidak boleh ditutup atau dihalangi.

Indonesia harus lebih baik. Dan akan lebih baik. Insya Allah.

Cerita Pendek: Bapakku Bukan Pahlawan!

Hujan, bagiku, tak hanya membuat kuyup. Tapi juga dapat membuat luka tak kunjung sembuh.

Sore itu jenazah Bapak baru selesai dikuburkan. Langkah kaki para pelayat masih belum jauh. Tak banyak yang ikut menguburkan Bapak, selain karena Bapak bukan siapa-siapa, juga karena sepanjang hari itu hujan turun tak mau berhenti.

Aku termangu di atas tanah merah yang semakin basah oleh air. Di atas makam Bapak. Cipratan-cipratan tanah akibat pukulan hujan menempel pada baju hingga wajahku. Meninggalkan bercak-bercak. Membuatku kuyup dan kotor. Tapi aku tak peduli. Tak ada lagi yang aku pedulikan sekarang. Kepergian Bapak membuat hatiku kosong. Dihinggapi sepi. Sebab Bapak adalah satu-satunya keluarga yang aku punya.

Di bawah guyuran hujan, kesedihanku seperti luka yang diguyur air garam. Semakin menyayat. Semakin menyobek ulu hatiku. Seperih-perihnya. Hingga aku tak dapat lagi berteriak. Atau bahkan sekadar meringis. Selamanya hujan akan mengantarkanku pada kematian Bapak. Mataku menyaksikan deras yang turun, tapi tatapannya kosong. Pikiranku juga sama sepinya. Tak terpikir tentang hari esok. Tak terpikir tentang hidupku setelah ini. Yang ada hanya sekelebat ingatan-ingatan tentang Bapak.

Sarapan kami pagi kemarin adalah kebersamaan kami yang terakhir. Tak ada yang istimewa, kecuali satu pesan Bapak yang tiba-tiba, “Sesusah-susahnya hidup kita, jangan pernah menyusahkan orang lain. Berhentilah mengeluh dan berusahalah memperbaiki kehidupanmu serta kehidupan orang-orang yang sama susahnya.”

Aku sedikit terkejut mendengarnya. Serta merta kulihat wajah Bapak. Laki-laki tulus itu tersenyum, berharap aku mengingat pesannya kuat-kuat.

Selepas itu Bapak berangkat. Berjalan kaki menuju Tempat Pemungutan Suara. Aku tak terlalu mengerti apa yang Bapak kerjakan, selain katanya bahwa ia termasuk petugas pemilu dan mungkin baru akan pulang esok harinya karena akan ada banyak yang harus ia kerjakan. Aku mengangguk saja.

Ucapan salamnya adalah ucapan salam yang terakhir.

Bapak benar bahwa ia baru akan pulang esok hari. Tapi Bapak tak bilang bahwa hanya jasadnya saja yang akan kembali. Bapak meninggal dunia hari itu. Tertabrak mobil saat hendak pulang menjelang subuh. Bapak kelelahan kata orang-orang.

Bersamaan dengan hujan yang mengguyur, aku menangis sekeras-kerasnya. Badanku gemetar oleh rasa hancur dan takut yang menyatu. Tak henti aku teriak memanggil-manggil Bapak. Di hadapannya yang terpejam, serta tubuh yang penuh luka.

Kepergian Bapak melengkapi kepergian Ibu lima tahun silam. Menyisakan aku yang sebatang kara. Tapi meninggalnya Bapak akan selalu menyakitkan.

Ramai kudengar puja puji bahwa Bapakku adalah pahlawan. Telah mengabdikan dirinya, jiwanya, raganya. Tetapi tidak bagiku, Bapakku bukan pahlawan jika lantas pujian itu sekadar ucapan terima kasih. Iringan tepuk tangan. Serta wajah yang pura-pura turut berduka.

Kematian Bapakku bukan sekadar bilangan pengisi daftar tentang ratusan orang yang kehilangan nyawa. Mata yang sudah terpejam itu, tubuh yang dipenuhi luka itu, jasad yang sudah tak bernyawa itu adalah korban atas kelalaian. Dan untuk sebab kematiannya harus ada yang bertanggung jawab.

Karena sekali lagi, Bapakku bukan pahlawan!

©achmadlutfi | 25 April 2019

Work Life Balance

Hidup bukan hanya untuk bekerja dan menghabiskan waktu di kantor. Melainkan juga untuk membersamai keluarga. Mengaktualisasi hobi. Travelling. Dan hal menyenangkan lainnya.

Cukup sering saya mendengar bahwa tidak semua negara di dunia ini memperhatikan kehidupan tenaga kerja mereka. Lebih banyak fokus kepada hak-hak pengusaha, para pemilik uang, penyelenggara bisnis, sementara soal work life balance para buruh dan pekerja mereka, masih di nomor sekian.

Ini adalah tahun ke-5 saya bekerja di Jerman. Saya belum pernah bekerja di tanah air, karena karir saya dimulai di negara ini persis setelah lulus dari kampus. Maka dalam benak saya, kehidupan seorang pekerja adalah seperti yang saya alami.

Di Jerman, rata-rata orang bekerja selama 40 jam dalam satu pekan. Ada juga yang kurang dari itu. Selama 40 jam itu, kita bisa mengatur sendiri pembagiannya. Kita boleh menjalani 8 jam setiap senin-jumat, namun banyak juga yang sengaja menghabiskan waktu lebih lama pada hari senin-kamis, supaya hari jumatnya bisa pulang lebih awal.

Jika suatu waktu tugas kita sedang overload, tentu kita bisa lembur. Dan menariknya, setiap jam waktu lembur kita akan terkumpul dan dapat kita gunakan suatu waktu jika kita ingin pulang lebih awal. Bahkan kita bisa ambil cuti apabila waktu lembur yang terkumpul sudah 8 jam atau lebih banyak dari itu. Karena satu hari kerja dihitung 8 jam.

Ketika cuti, jangan khawatir kita akan terganggu dengan deringan telepon atau keharusan mengecek email yang masuk untuk membicarakan tentang kerjaan. No! Siapapun yang sedang cuti, ia berhak meninggalkan pekerjaannya sama sekali. Tidak boleh diganggu, karena karyawan yang sedang berlibur dianggap sedang mengistirahatkan dirinya agar tidak stres dan dapat kembali bekerja dengan kondisi jiwa raga yang fit. Sehingga ia dapat menyelesaikan tugas dengan optimal.

Di Jerman, kita dituntut menyelesaikan tugas tepat waktu. Bekerja secara efektif dan efisien. Kita berhak menyampaikan kondisi dan keadaan yang sekiranya dapat membantu memaksimalkan tugas-tugas yang ada. Misalnya jika beban terlalu banyak, sampaikan. Jika ada kesulitan yang tak kunjung menemukan solusinya, sampaikan. Komunikasi adalah hal mendasar agar setiap tugas selesai dengan baik. Dan tentu saja, agar kita bisa pulang tepat waktu!

Waktu yang kita berikan untuk menyelesaikan tugas -setiap jam dan menitnya- adalah harga yang harus dibayar oleh perusahaan. Maka dari itu, proyek yang kita terima mesti berjalan lancar dan tepat waktu.

Belum lagi hak cuti setelah kelahiran anak. Ayah atau pun Ibu sama-sama punya hak cuti (di luar hak cuti tahunan), agar dapat menemani perkembangan anak. Biasanya kita bisa cuti selama 2 sampai 36 bulan, namun dengan konsekuensi kita tidak memperoleh 100% gaji. Tapi tetap saja itu opsi yang menarik. Terlebih bagi Ibu yang harus menyusui. Miris rasanya mendengar wanita yang harus memompa ASI mereka, karena tak punya waktu, harus segera kembali bekerja, dan juga tak punya pilihan lain. Padahal proses menyusui itu sendiri adalah kebutuhan bayi. Ia perlu bersentuhan dengan ibunya dan itu jauh lebih baik.

Meskipun kita punya kewajiban sebagai seorang karyawan, tetapi kita juga punya hak-hak dasar selaku individu. Kita punya keluarga. Punya anak. Yang mana kita juga perlu waktu untuk membersamai mereka.

Intinya adalah work life balance harus terjaga.

Saya harap, hal-hal seperti ini suatu saat akan menjadi perhatian penting pemerintah Indonesia. Entah apa saja yang harus dipertimbangkan agar kebijakannya berjalan lancar. Yang pasti kemajuan sebuah negara perlu memperhatikan kebahagiaan manusianya. Dan kebahagiaan manusia antara lain terletak pada seimbangnya hidup dan pekerjaan mereka.

Dan saya bermimpi, jika kelak pulang ke Indonesia, dapat membangun sebuah usaha mandiri pada bidang yang saya senangi. Mungkin bukan sebuah industri besar, namun harapannya ia tak hanya menjadi tempat saya berkarya, melainkan juga tempat saya berbagi lapangan pekerjaan yang layak dan menjaga keseimbangan hidup manusia, seutuhnya.

Saya percaya, jiwa manusia yang sehat dan bahagia akan melahirkan kesungguhan untuk berkarya sebaik-baiknya.

© achmadlutfi | 24 April 2019

Merawat Energi Positif

Pikiran manusia dapat berubah. Hati manusia dapat berganti. Hari ini meyakini A, boleh jadi esok tak sama lagi.

Kadang-kadang kita merasa ragu memposting kalimat atau kata-kata positif di laman media sosial, hanya karena merasa malu jika dilihat oleh sahabat kita yang amat sangat mengenal kita.

“Nanti kalau diledekin bagaimana?”

“Nanti kalau dicie-ciein bagaimana?”

“Nanti kalau dikira kode buat seseorang, kan malu!”

Ya. Kita sering sibuk oleh nanti-kata-orang-bagaimana. Padahal semuanya belum tentu terjadi. Pun kalau terjadi, memangnya kenapa? Sedikit-sedikit dianggap motivator tak apalah. Karena yang terpenting dari menulis kata-kata positif adalah perubahan pada diri kita sendiri. Perlahan demi perlahan.

Tidak percaya? Boleh saja.

Tapi mencobanya, itu perlu!

Dunia kita hari ini, informasi ada banyak sekali. Beredar dimana-mana. Tak cuma yang positif. Yang negatif dan hoaks juga bersaing untuk dibaca oleh banyak manusia. Maka tak heran kalau semakin banyak informasi, justru tidak membuat kita lantas mempunyai satu gagasan atau pikiran yang dalam, sebab banyak informasi adalah sampah.

Sikap kita terhadap informasi mestilah bijak. Harus selalu kita pilih dan pilah. Kata-kata dan kalimat yang kita baca dapat merubah suasana hati. Bahkan yang lebih jauh lagi, mereka dapat mengubah kesan dan pikiran kita tentang sesuatu.

Pengalaman semacam itu tentu pernah kita alami. Sadar atau tidak, itulah kuasa kata-kata.

Maka yang terpenting dari menuliskan kata-kata positif di laman media sosial kita adalah agar aura positif itu merasuk dan mempengaruhi penulis dan penggagasnya, yaitu diri kita sendiri.

Kita bukan sedang sok-sokan atau ingin dianggap sebagai motivator bijak, kita hanya ingin menjaga diri kita dari situasi hari-hari yang semakin kesini semakin menggoda untuk ke arah negatif. Di instagram kita lihat yang ganteng-ganteng, cantik-cantik, kaya raya, harta berlimpah, lama-kelamaan akan mendorong kita memiliki sikap materialistis. Hanya menilai sesuatu dari meteri. Dari tampilan luarnya.

Di twitter banyak orang saling caci dan mencela, saling membuka dan mengumbar aib sesama, lama-kelamaan akan membentuk kita sebagai pribadi yang pesimis, mudah berburuk sangka, sulit memberi kepercayaan pada orang lain dan mudah berkata kotor.

Begitulah. Godaan dimana-mana.

Maka daripada menunggu situasi berubah. Atau berharap kita hanya punya teman-teman yang positif. Lingkungan yang sehat. Kita juga perlu memulai dan membiasakannya dari diri sendiri.

Teruslah merawat energi positif. Pupuki dengan kata dan bacaan yang baik. Jauhi hati kita dari keduniawian yang terlalu. Dan ringankan kaki untuk melangkah pada sebab-sebab yang membuat kita senantiasa berakal sehat.

© achmadlutfi | 22 April 2019


Raksasa Itu Masih Lelap Dalam Mimpi

Banyak orang mengira bahwa ricuh dan perdebatan soal pilpres akan berakhir pada 17 April 2019. Nyatanya mereka keliru. Termasuk saya.

Pemilihan presiden sebagai pemimpin baru yang akan membawa Indonesia lima tahun ke depan adalah hal yang biasa. Terlepas dari baru sebagai sosok, atau sekadar baru sebagai jabatan untuk kali kedua. Pilpres yang dilakukan secara langsung pada tahun ini, juga bukan pilpres yang pertama, melainkan sudah yang ke-4 kalinya. Semestinya negara -sebagai penyelenggara- juga sudah jauh lebih profesional dengan segala perbaikan dan evaluasi dari tiga pemilihan sebelumnya.

Kenyataannya? Tidak demikian.

Ramai di media sosial orang berkomentar, bahwa pilpres 2019 adalah pilpres paling kacau. Apa sebabnya? Tak lain karena maraknya kecurangan yang jelas-jelas terjadi. Ini mengerikan, sekaligus menyedihkan.

Kepercayaan masyarakat adalah harta yang dimiliki oleh negara yang dapat menjadi energi luar biasa besar dalam mencapai kemajuan dan kesejahteraan. Tanpa kepercayaan, maka negara ini akan sibuk dan tenggelam dalam urusan-urusan menjawab ketidak percayaan tersebut.

Di saat negara lain sedang sibuk membangun peradaban dan berkompetisi di pentas dunia, apakah kita ingin hanya sibuk mengurusi hal paling mendasar yang seharusnya sudah kokoh dimiliki oleh negara dengan usia kemerdekaan 73 tahun?

Tidak. Indonesia tidak selayaknya menjadi embel-embel bagi peradaban dunia.

Negeri ini begitu besar. Kedudukannya adalah sebagai pemimpin dunia. Sebagaimana yang dicontohkan oleh pendahulu kita, saat mereka menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika dengan mendorong dan memberikan inspirasi bagi negara-negara yang masih dikungkung oleh penindasan dan penjajahan.

Itulah Indonesia yang dilahirkan 73 tahun yang lalu.

Kesibukan kita memuji-memuji kekayaan alam negeri sendiri, membuat kita abai untuk mempertajam keahlian agar pengelolaan kekayaan tersebut dilakukan dengan kemandirian. Kita larut dalam ketakjuban akan ledakan demografi, namun tak mengacuhkan pendidikan. Sehingga kebodohan-kebodohan bangsa sendiri semakin mengerak dan menciptakan kemiskinan yang menjadi sistem.

Betapa harta adalah ujian.

Betapa kepemilikan adalah benar-benar titipan. Bukan sekedar untuk mengingatkan pada kita agar bersyukur, tapi juga pesan agar kita mengelolanya, memanfaatkannya, untuk kebaikan bagi semesta alam. Sementara berhenti pada ketakjuban atas apa yang kita miliki, selamanya hanya akan membuai kita untuk terus lelap dalam mimpi dan angan-angan.

Maka dalam riuh dan ramainya suara-suara tentang kecurangan pemilu ini, semoga negara kita tetap terjaga. Semoga yang terpilih adalah pemimpin terbaik. Ia mengembalikan kepercayaan rakyat dan bangsa. Membawa alam pikiran mereka untuk melangkah lebih jauh. Untuk terbang lebih tinggi. Mengurai masalah-masalah yang lebih fundamental. Menjadi jawaban atas persoalan bangsa-bangsa yang masih tertindas. Penengah atas negeri-negeri yang berperang. Sehingga Indonesia mencapai cita-citanya dalam melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Bangunlah wahai raksasa yang masih terlelap!

© achmadlutfi | 22 April 2019

Setiap Sesuatu Punya Cerita

Saya percaya bahwa setiap sesuatu punya ceritanya sendiri. Layaknya kita yang selalu punya bahan untuk dibicarakan, entah terkait diri kita sendiri atau bukan, namun setiap hari kita punya cerita.

Jika kita berkeyakinan bahwa tidak ada yang sia-sia, maka satu simpul yang perlu kita perhatikan antara cerita dan tiada kesia-siaan adalah bahwa setiap cerita punya nilainya.

Sudut pandang setiap orang bisa berbeda. Pun keinginan kita memandang dari satu sisi bisa berbeda dan berubah, tergantung dari sisi mana atau bagaimana kita ingin melihat. Pernah melihat seorang fotografer berulang kali mengabadikan sebuah objek yang sama?

Persis.

Seperti itulah kita bisa memaknai sesuatu yang mengandung ceritanya. Ketika seorang fotografer mengambil gambar, ia juga sedang memilih gambar mana yang menarik untuk dilihat dan ceritanya menarik untuk disimak.

Maka pada akhirnya kita selalu bisa memilih.

Cerita mana yang ingin kita bagikan kepada pembaca, tentu yang menurut kita paling menarik. Tetapi cerita mana yang paling menarik? Disitulah intuisi kita mengambil perannya.

©achmadlutfi | Steintor, 18 April 2019

Lahir Kembali

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Assalamu’alaikum, Dunia!

Alhamdulillah website ini telah kembali saya aktifkan, setelah sempat say goodbye beberapa tahun yang lalu.

Kamis, 18 April 2019, tepat satu hari setelah perayaan pemilu di Indonesia, menjadi hari lahir yang ke-2 kali untuk achmadlutfi.com

Aktivasi web ini tak lain karena dorongan yang teramat kuat agar saya menulis lebih banyak lagi. Semoga ini bukan omong kosong yang akan berulang seperti kelahirannya yang pertama dulu.

Tahun 2019 menjadi tahun yang istimewa untuk saya pribadi. Yaitu karena di tahun ini usia saya akan genap 30 tahun insyaAllah. Menyentuh angka tiga puluh ternyata bukan hal yang biasa. Ada dorongan yang demikian kuat dari dalam diri saya untuk lebih banyak membaca buku terutama yang mengasah dan menguatkan basis argumentasi serta cara berpikir saya.

Selain itu tiga puluh tahun juga menuntun saya untuk lebih sering lagi menyampaikan gagasan dan pikiran-pikiran lewat tulisan. Disamping lewat diskusi dan obrolan-obrolan ringan dengan orang lain.

Ada rasa lapar dan dahaga yang begitu kuat agar saya lebih bijaksana dan memiliki alur berpikir yang matang. Barangkali memang beginilah usia tiga puluh. Usia yang menjadi jembatan menuju angka empat puluh, dimana kata orang usia 40 adalah titik awal dimulainya hidup. Dengan segala pengalaman hidup, segala rasa dan romantikanya, kita -pada usia tersebut- dianggap (dan diharap) sudah memiliki kematangan jiwa yang lebih baik.

Maka sekali lagi, selamat terlahir kembali achmadlutfi.com, semoga lebih banyak membawa kebaikan, lebih aktif dan lebih bermanfaat untuk menjadikan penulisnya lebih baik lagi setiap harinya.

Salam,

Achmad Lutfi

error: Content is protected!