Konsumtif

Konsumtif

Ketika kita menjadi seorang pengusaha, pebisnis, penjual atau apapun sebutannya, tentu kita ingin agar produk yang kita jual tersebut laku dan dibeli oleh banyak orang. Sehingga target penjualan kita tercapai, keuntungan terpenuhi dan produksi atau pembelian bisa kembali berputar.

Wajar tentu saja.

Akan tetapi ada satu hal yang membuat hati saya terusik. Yaitu ketika menemukan praktik marketing yang berlebihan dari seorang penjual, dimana ia menawarkan produk atau barang dagangannya dengan mendorong dan bertujuan agar orang yang ditawarkan itu membeli lagi dan membeli lagi. Titik.

Bahkan di ujungnya nanti, ia berharap dan dengan sengaja, agar si pembeli akan membeli produk paling mahal atau produk premium miliknya. Tujuannya apa? Tentu meraih keuntungan.

Lantas bagian mana yang mengganggu?

Adalah ketika tujuan kita selaku pengusaha atau marketer hanya semata mengharap laba dan hanya mengharap barang kita dibeli lagi dan lagi, terus menerus, tanpa kita pedulikan sama sekali apakah barang tersebut dibutuhkan atau tidak oleh si pembeli.

Okay, sampai di sini mungkin kalimat saya di atas bisa dipersepsikan salah. Karena pada satu waktu boleh jadi kita memang tidak tahu -dan tidak perlu selalu tahu- apakah barang yang kita jual dibutuhkan pembeli atau tidak. Tentu akan merepotkan sekali jika dalam tiap transaksi kita bertanya, “Apakah Anda benar-benar membutuhkan produk saya?”

Yang saya maksud adalah ketika kita sejak semula hanya memandang pembeli sebagai sumber uang kita, sumber laba kita, sumber pertumbuhan bisnis kita. Padahal bagi saya, dalam bisnis, kita tetap perlu memandang orang lain, konsumen atau pelanggan, sebagai manusia yang kepadanya kita bermuamalah. Dengannya kita saling bekerja sama. Kepadanya kita menjual dan ia membeli.

Perilaku konsumtif dalam kacamata Islam adalah perilaku yang patut ditinggalkan. Konsumtif dekat dengan sifat mubazir dan mubazir adalah perilaku setan. Musuh abadi kita.

Selayaknya seorang muslim, apabila ia menjadi pengusaha, maka ia menjaga dirinya dari secara sengaja medorong orang lain membeli sesuatu yang tidak ia butuhkan, apalagi memanfaatkan psikologis orang tersebut, dan di dalam kepala kita hanya agar ia membeli dan membeli. Titik.

Barangkali itulah salah satu alasan mengapa pasar, dalam persepktif Islam, adalah salah satu tempat yang buruk. Sebab di dalamnya ada kebohongan-kebohongan, ada kecurangan-kecurangan, ada perilaku-perilaku konsumtif yang sengaja diciptakan, sehingga lahir budaya mubazir dan menyia-nyiakan.

Bersabarlah atas rizki. Bersabarlah atas harta. Sebab rizki dan harta bukan hanya soal banyak atau sedikitnya, melainkan juga soal keberkahannya. Itulah yang akan mengundang ketenangan, kedamaian, dan rasa cukup dalam diri serta keluarga kita.

achmadlutfi | 20 April 2020

Pic: unsplash.com/@photoripey

error: Content is protected!