Mencari Nilai Diri

Mencari Nilai Diri

Saya bertanya-tanya, apa sebenarnya yang paling saya cari di dunia ini? Apakah Harta? Popularitas? Jabatan? Gelar dan semacamnya? Jika iya, lantas di manakah ujungnya? Sampai kapankah saya akan berhenti dan merasa cukup atas pencarian tersebut?

Apakah ketika nilai kekayaan saya sudah mencapai angka 1000 Triliun? Apakah ketika seluruh dunia mengenal saya, mewawancarai saya dalam berbagai kesempatan, memampang gambar saya di sampul majalah Times? Apakah ketika jabatan saya sudah menjadi seorang Presiden atau Komisaris di berbagai bisnis strategis? Apakah ketika gelar akademis sudah panjang berderet-deret hingga orang lain kesulitan mengeja nama saya sendiri?

Apakah saat itu semua tercapai saya akan merasa cukup?

Saya ragu dengan hal itu.

Bukan hanya meragukan saya bisa mencapai kesemua yang saya sebutkan di atas, tapi juga meragukan kedamaian dan rasa cukup yang membuat saya berhenti untuk mengejar dunia yang tak habis-habis.

Saya jadi terpikir akan nilai diri sesungguhnya. Nilai yang saya jadikan acuan untuk saya capai. Nilai yang bagi semua orang adalah positif. Nilai yang menguntungkan bukan hanya untuk diri saya sendiri. Nilai yang tak sekadar materi.

Jika materi adalah satu-satunya yang paling berharga untuk saya, maka saya perlu memastikan lagi apakah ia -segala materi yang saya kejar itu- akan ikut bersama saya ketika meninggalkan dunia nanti?

Apakah segala materi itu akan menjadi sesuatu yang menguntungkan di kehidupan berikutnya? Adakah ia membuat saya jadi penduduk surga yang bahagia selama-lamanya?

Materi duniawi laksana air laut yang jika diminum hanya akan membuat seseorang semakin haus. Dan saya meyakini itu. Karena sifat dasar manusia tak pernah memiliki rasa puas. Manusia selalu mencari sesuatu yang lebih dari yang ia punya, bahkan merebutnya dari oang lain jika itu perlu dan bisa ia lakukan.

Maka kembali tentang pencarian nilai diri, sepatutnya nilai diri adalah nilai yang membuat seseorang damai. Ia menenangkan. Kita memang mengejarnya, kita berupaya mencapainya, tetapi di dalam perjalanannya kita berusaha dengan hati yang gegap gempita.

Nilai-nilai semacam itu ada pada kebaikan, pada sikap kita membantu orang lain, memudahkan yang kesulitan, memberi makan yang kelaparan, nilai-nilai diri seperti itu yang semestinya kita upayakan.

Mungkin sama seperti nilai akan materi yang tak akan ada ujungnya, namun pada nilai diri yang non materiil, kita tak pernah ingin membuat kerusakan, justru sebaliknya, kita mengusahakan perbaikan dan perbaikan, sehingga meskipun tak berujung, capaian-capaian dalam perjalanannya adalah capaian yang mendamaikan.

Nilai diri bukan sesuatu yang membuat kita tampak lebih segalanya dari orang lain, entah lebih kaya, lebih terhormat, lebih berkedudukan, nilai diri justru membuat kita dan orang lain sama sederajat. Kita tidak membuat orang lain silau, namun justru meneduhkan karena kerendahan hati yang jujur. Kita tidak membuat orang lain merasa rendah, namun justru merasa sama-sama beruntung. Beruntung karena keadaan kita yang seperti apapun.

Nilai diri yang baik tidak menguras dan memeras energi orang lain, sebaliknya ia memberi energi dan nafas yang baru. Nilai diri yang baik tidak menonjolkan, sebaliknya ia menyadari dan memahami sepenuhnya bahwa kelebihan yang ia punya bukan semata untuk diri sendiri, namun untuk manusia dan lingkungannya pula.

achmadlutfi | 21 April 2020

Pic: unsplash.com/@vincefleming

error: Content is protected!