Cerpen: Angin dan Sehelai Daun

Cerpen: Angin dan Sehelai Daun

Langit masih terpejam. Membiarkan rembulan diatas sana melamun tanpa sesiapa. Entah ia sedang menatap kepada apa. Seolah kosong. Serupa bagai seseorang yang sedang merindukan seseorang yang lain, yang berada jauh terpisah jarak, tapi tak pernah sekalipun rindunya tersampaikan. Perih.

Sementara aku, sedari tadi tergelitik sambil terangguk-angguk menyimak bualan Angin kepada sehelai Daun yang terjatuh siang tadi.

“Hey, kudengar kau dirindukan.” cakap Angin kepada Daun Kering berwarna kecoklatan itu.

“Oleh siapa?”

“Oleh ranting yang sudah sedemikian lama bersama dengan kau.”

“Hahaha.” Si Daun Kering itu tertawa keras sekali.

“Eh aku serius!”

“Kau hendak menggodaku, bukan?”

Angin menggeleng, “Tidak, aku bersungguh-sungguh.”

Si Daun Kering terdiam. Sepasang matanya menatap Sang Angin, mencari-cari dusta atas bualannya.

“Sudahlah.” kata Si Daun Kering. “Aku tak peduli lagi dengan Ranting. Aku sedang berusaha untuk tak melulu teringat padanya.”

Hening.

Kini giliran Angin yang menutup mulutnya rapat-rapat. Ia merasa bersalah.

“Maafkan aku.” tutur Angin, “Aku tak bermaksud membuatmu sedih.”

“Iya. Tak apa. Aku maafkan.” Daun membalas, “Memangnya, apa kata Ranting?”

“Hahahaha.” Angin tergelak, “Rindu pula rupanya kau.”

Daun melipir malu-malu. Hendak bersembunyi atas pertanyaannya yang terlontar begitu saja.

“Tidak,” jawab Angin, “ia tak berucap sepatah kata pun. Namun senja tadi, saat aku bersua dengannya, kuperhatikan ia seperti tengah merindukan sesuatu yang telah hilang dari sisinya.”

Daun tampak tak puas dengan jawaban itu. Ia hanya mengangguk. Sambil menoleh kepada Rembulan, seakan hendak menjadikan makhluk bercahaya itu selaku cermin, agar bisa melihat sosok yang sangat ingin ia tahu kabarnya.

Dan aku masih tak ikut bicara. Tenggelam dalam obrolan ringan ini, obrolan dua sahabat yang berbeda wujud dan rupanya. Tapi seperti sebelum-sebelumnya, dalam perbincangan yang sederhana, seringkali justru terlahir petuah yang luhur, nasehat yang layak disimak dan ditiru.

“Marahkah kau padaku?” Angin berusaha memecahkan suasana.

“Marah kenapa?”

“Karena aku menjadi bagian dari episode yang tak menyenangkan atas hidup yang kau lalui. Keberadaanku, memisahkan kau dengan Ranting.”

Tawa renyah Daun terdengar lamat-lamat. “Hidup macam apa yang tak pernah sekalipun diisi oleh rindu, oleh luka atau sedihnya kehilangan? Padahal dari sanalah kita mengerti indahnya pertemuan, dari sanalah kita tahu mengapa harus memanfaatkan waktu yang sedikit? Mengapa hidup mesti kita rawat baik-baik dan tak kita jalani sekenanya? Tak lain dan tak bukan, karena kebersamaan dengan sosok-sosok terkasih di dunia hanya sesaat saja.”

Aku menarik nafas dalam-dalam.

“Kenapa kau tak tampak bersedih, Daun? Kenapa sikapmu menunjukan seolah tak terjadi apa-apa?” tanya Angin ingin tahu.

“Hmm, sesungguhnya itulah yang sedari tadi aku jaga kuat-kuat. Bersedih, tentu aku bersedih. Tapi aku tak ingin meratap-ratap. Sebab yang aku khawatirkan dari meratapi kesedihan adalah menyalahkan ketetapan Tuhan.”

Sang Angin merunduk. Ia merasa, seakan-akan ada sesuatu yang menusuk-nusuk ke dalam dadanya. Dan ia tersungkur oleh rasa malu. Teringat akan kesedihan-kesedihan yang berlebihan, yang berujung pada pertanyaan-pertanyaan akan takdir Tuhan, Mengapa? Mengapa? dan mengapa?

“Sudahlah kawan,” Daun mencoba menenangkan, “atas takdirku, kau tak perlu merasa bersalah, aku terjatuh karena memang sudah waktunya untuk terjatuh, dengan hembusanmu ataupun tanpa hembusanmu.” 

Sunyi menyelimuti kami dengan sempurna.

Dan aku benar-benar hanya bisa terdiam merenungi semua keadaan ini. Hanyut dalam terima kasih yang sangat kepada dua sahabat ini, yang pada mereka aku banyak belajar.

“Esok pagi, bawalah aku ke tempat yang jauh, ke tempat yang telah Tuhan tuliskan untukku, kemanapun itu, aku yakin pasti indah!” pesan Sang Daun untuk terakhir kalinya.

Achmad Lutfi |Wolfsburg, 17.08.2013

Pic: unsplash.com/@aaronburden

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected!