Cerita Pendek: Bapakku Bukan Pahlawan!

Hujan, bagiku, tak hanya membuat kuyup. Tapi juga dapat membuat luka tak kunjung sembuh.

Sore itu jenazah Bapak baru selesai dikuburkan. Langkah kaki para pelayat masih belum jauh. Tak banyak yang ikut menguburkan Bapak, selain karena Bapak bukan siapa-siapa, juga karena sepanjang hari itu hujan turun tak mau berhenti.

Aku termangu di atas tanah merah yang semakin basah oleh air. Di atas makam Bapak. Cipratan-cipratan tanah akibat pukulan hujan menempel pada baju hingga wajahku. Meninggalkan bercak-bercak. Membuatku kuyup dan kotor. Tapi aku tak peduli. Tak ada lagi yang aku pedulikan sekarang. Kepergian Bapak membuat hatiku kosong. Dihinggapi sepi. Sebab Bapak adalah satu-satunya keluarga yang aku punya.

Di bawah guyuran hujan, kesedihanku seperti luka yang diguyur air garam. Semakin menyayat. Semakin menyobek ulu hatiku. Seperih-perihnya. Hingga aku tak dapat lagi berteriak. Atau bahkan sekadar meringis. Selamanya hujan akan mengantarkanku pada kematian Bapak. Mataku menyaksikan deras yang turun, tapi tatapannya kosong. Pikiranku juga sama sepinya. Tak terpikir tentang hari esok. Tak terpikir tentang hidupku setelah ini. Yang ada hanya sekelebat ingatan-ingatan tentang Bapak.

Sarapan kami pagi kemarin adalah kebersamaan kami yang terakhir. Tak ada yang istimewa, kecuali satu pesan Bapak yang tiba-tiba, “Sesusah-susahnya hidup kita, jangan pernah menyusahkan orang lain. Berhentilah mengeluh dan berusahalah memperbaiki kehidupanmu serta kehidupan orang-orang yang sama susahnya.”

Aku sedikit terkejut mendengarnya. Serta merta kulihat wajah Bapak. Laki-laki tulus itu tersenyum, berharap aku mengingat pesannya kuat-kuat.

Selepas itu Bapak berangkat. Berjalan kaki menuju Tempat Pemungutan Suara. Aku tak terlalu mengerti apa yang Bapak kerjakan, selain katanya bahwa ia termasuk petugas pemilu dan mungkin baru akan pulang esok harinya karena akan ada banyak yang harus ia kerjakan. Aku mengangguk saja.

Ucapan salamnya adalah ucapan salam yang terakhir.

Bapak benar bahwa ia baru akan pulang esok hari. Tapi Bapak tak bilang bahwa hanya jasadnya saja yang akan kembali. Bapak meninggal dunia hari itu. Tertabrak mobil saat hendak pulang menjelang subuh. Bapak kelelahan kata orang-orang.

Bersamaan dengan hujan yang mengguyur, aku menangis sekeras-kerasnya. Badanku gemetar oleh rasa hancur dan takut yang menyatu. Tak henti aku teriak memanggil-manggil Bapak. Di hadapannya yang terpejam, serta tubuh yang penuh luka.

Kepergian Bapak melengkapi kepergian Ibu lima tahun silam. Menyisakan aku yang sebatang kara. Tapi meninggalnya Bapak akan selalu menyakitkan.

Ramai kudengar puja puji bahwa Bapakku adalah pahlawan. Telah mengabdikan dirinya, jiwanya, raganya. Tetapi tidak bagiku, Bapakku bukan pahlawan jika lantas pujian itu sekadar ucapan terima kasih. Iringan tepuk tangan. Serta wajah yang pura-pura turut berduka.

Kematian Bapakku bukan sekadar bilangan pengisi daftar tentang ratusan orang yang kehilangan nyawa. Mata yang sudah terpejam itu, tubuh yang dipenuhi luka itu, jasad yang sudah tak bernyawa itu adalah korban atas kelalaian. Dan untuk sebab kematiannya harus ada yang bertanggung jawab.

Karena sekali lagi, Bapakku bukan pahlawan!

©achmadlutfi | 25 April 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected!