Cerpen: Selma

Sempurna. Ia sempurna sekali bagiku. Ia sempurna dalam ketidaksempurnaannya. Rupanya benar kata orang, bukan cantik yang menjadikan cinta, tetapi cinta yang menjadikan cantik. Dan aku, berkali-kali jatuh cinta padanya.

Diam-diam kupandang tingkahnya di depan cermin. Sejak tadi. Sejak ia bertanya, jilbab warna apa yang aku suka untuk dikenankanya. Padahal aku selalu suka warna apapun yang ia kenakan. Karena bagiku selalu sama hasilnya, cantik.

Ia masih mematut-matut dirinya di depan cermin, bersiap-siap untuk makan malam kami di sebuah restoran di atas bukit. “Aku ingin melihat bintang.” begitu pintanya. Aku pun setuju, bahkan sangat setuju. Karena malam ini adalah malam yang spesial bagi kami, tepat dua tahun kami menikah. Rumah tangga yang masih terbilang muda, semuda kandungan di dalam rahim istriku yang baru 120 hari.

Ingin sekali rasanya, ku sampaikan pada Ibu tentang keadaan menantunya kini. Tentang Selma yang dahulu sempat membuatnya risau.

“Kamu yakin ingin menikahi Selma?” tanya Ibuku suatu malam, tepat sebelum aku meminang gadis berwajah oriental itu.

Aku mengangguk mantap. “Insya Allah aku yakin, Bu.”

Ibu terdiam. Melamun.

“Ada apa? Apa Ibu keberatan?”

“Tidak, Nak. Ibu tidak keberatan. Hanya saja ada sesuatu yang sedikit mengganjal di hati Ibu.”

“Apa itu, Bu?” Aku mencoba menerka dalam hati, namun tak yakin.

“Nak, kamu itu seorang Ustadz. Lulusan Madinah dan bertahun-tahun belajar di sana. Ilmu agamamu sudah cukup luas. Apakah tak sebaiknya, kamu memilih calon istri yang lain? Yang sepadan, yang ilmu agamanya tak terlalu jauh denganmu?”

Aku mulai mengerti kegusaran Ibu. Kegusaran yang sempat terpikir juga olehku, tapi kini sudah hilang sama sekali.

“Apakah karena Selma seorang muallaf, Bu?”

Ibu mengiyakan. “Itu salah satunya. Ibu khawatir, bagaimana nanti ia mendidik anak-anakmu agar shalih dan shalihah? Mengurus rumah tangga itu tak mudah, terlebih agar tetap sesuai dengan norma-norma agama.”

Aku tak menyalahkan Ibu karena berpikir demikian. Tidak sama sekali. Aku memang harus realistis. Selma baru menjadi muslimah setahun yang lalu, begitupun dengan kedua orang tuanya. Bacaan qur’annya belum lancar. Hafalannya pun masih sangat sedikit, baru beberapa surat-surat pendek.

“Apa yang membuatmu jatuh cinta padanya?”

“Akhlaknya, Bu. Ia santun sekali.”

Ibu menatapku lekat-lekat, “Apa kamu sudah shalat istikharah sebelum melamar Selma?”

“Beberapa kali. Hasilnya, aku semakin yakin.”

“Dan semakin cinta?”

Aku tersenyum. Mengangguk malu-malu.

“Sebetulnya, wanita seperti apa yang kamu pinta pada Allah agar menjadi jodohmu?”

“Sederhana saja. Pada-Nya aku meminta agar diberikan wanita yang shalihah dan makmum yang baik.”

Ibu menarik nafas dalam-dalam. “Baiklah, Nak. Bila kamu memang sudah benar-benar yakin, maka Ibu juga tak akan ragu lagi. Pesan Ibu, tetaplah yakin pada Allah, bahwa Ia akan mengabulkan setiap doamu, sekarang atau nanti.”

Aku mencium tangan Ibu. Berharap doa dan restu terbaik darinya. Sejak malam itu, aku belajar untuk semakin yakin akan indahnya rencana Tuhan, akan kebaikan-Nya memenuhi segala permintaan atas apa yang hamba-Nya butuhkan.

Jodoh. Perkara yang tak satu manusia pun betul-betul tahu. Ia murni kuasa Tuhan. Sangat amat rahasia. Langit pun menutup rapat-rapat dan enggan membocorkannya walau sedikit. Barangkali kita memang tak perlu tahu, hanya perlu berusaha untuk menjadi lebih baik setiap waktu. Memantaskan diri atas segala kasih sayang-Nya dalam bentuk apapun.

Ku kira, makmum yang baik adalah makmum yang sama luas ilmunya dengan sang imam, atau lebih. Namun rupanya tak sesederhana itu, walau tak sepenuhnya salah. Sebagaimana dalam shalat, makmum yang baik adalah makmum yang mau mendengarkan sang imam, mengikutinya dan bersedia mengingatkan bila ada kesalahan. Dan bagiku, ia menjelma dalam sosok Selma.

Bu, lihatlah. Menantumu kini sudah banyak berubah. Ia wanita yang shalihah, yang sangat mencintai Al-Qur’an. Bacaannya semakin fasih, hafalannya pun kian bertambah. Jilbabnya, Bu, jilbabnya tak seperti dulu lagi, ia kini tak ragu apalagi malu mengenakan jilbab segi empat dan lebar itu. Anggun sekali. Pun dengan akhlaknya, bagaimana ia bersikap, bagaimana ia berucap. Indah sekali.

Aku sangat beruntung memilikinya, Bu. Sangat ikhlas memiliki istri seperti Selma.

“Kak, udah cantik belum?”

Tiba-tiba Selma sudah berada di hadapanku, membuyarkan lamunanku dengan pertanyaan yang membuatku mengernyitkan dahi, “Emangnya pernah kamu nggak cantik?”

Achmad Lutfi
Wolfsburg, 22.09.2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected!