Cerpen: Keke dan Keluarga Tupai

“Aduuuh. Ini gimana niiiiiih? Tolongiiiiiiiiiin! Aku nggak bisa geraaaaak! Siapapuuuun tolongin akuuuuu!!”

Sudah berjam-jam, Keke si batu kerikil berteriak-teriak meminta pertolongan. Badannya yang mungil terjepit diantara sela-sela akar besar sebuah pohon. Malang, sedikitpun ia tak bisa menolong dirinya. Benar-benar tak dapat bergerak.

“Sudahlah, Batu Kecil.” ucap si pohon besar itu dengan suaranya yang serak. “Tidak ada siapapun di dekat sini yang bisa menolongmu.”

Keke meringis, “Aduuh, Kakek Pohon, bantuin Keke doong. Keke harus cepet-cepet pergi niih.”

Si Pohon diam saja. Dalam hatinya ada rasa tak tega dan ingin membantu. Namun entah mengapa, sejak tadi tak tampak siapapun yang bisa dimintai pertolongan. Sungguh tak seperti biasanya. Dan rasa iba Si Pohon Besar itu pun makin menjadi-jadi. Ia kembali mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Berharap ada yang bisa membantu. Hingga sejenak kemudian, ia tersenyum.

“Hei, Batu Kecil, berteriaklah sekali lagi. Aku lihat ada keluarga Tupai di sebelah sana.”

Keke menoleh. “Ah, benarkah? Baiklah Keke akan berteriak lagi.”

“Hallooooooo! Bantuin Keke doooooong! Keke kejepit Kakek Pohon niiiiiih!!! Keke nggak bisa geraaaaakkk!”

Beruntung. Kali ini usaha Keke berhasil. Teriakannya sampai di telinga keluarga Tupai itu. Mereka pun segera menuju ke asal suara. Dan tak berapa lama, keluarga Tupai itu sudah berada dihadapan Keke.

“Hei kamu yang bersembunyi di dalam situ. Ada yang bisa kami bantu?” sapa Mama Tupai.

Keke berbinar-binar. Matanya berkaca-kaca mendapati tiga sosok pahlawannya yang berbulu. Papa Tupai, Mama Tupai, dan anak mereka, Tutu.

“Ada! Ada!” jawab Keke sumringah. “Ini, Keke nggak bisa gerak nih. Tolongin Keke ya, Mama Tupai.”

“Biar aku aja, Ma!” buru-buru Tutu mengajukan bantuan. Tangan kecilnya berusaha menjangkau tubuh Keke. Berjuang menggamit-gamit sebisanya. Namun sayang, rupanya posisi Keke teramat sulit dijangkau. Ia tak hanya terhimpit, melainkan juga terperosok jauh ke dalam sela-sela akar pohon besar.

“Aha. Papa tahu caranya!” suara berat Papa Tupai memberi secercah harapan kepada Keke. “Kita butuh ranting pohon kecil yang cukup kuat agar bisa mengaitkan Keke!”

Mereka mangangguk.

“Sudah, biar Papa yang mencari. Kalian tunggu disini saja.”

Papa Tupai pun segera beranjak. Meninggalkan Mama Tupai dan Tutu menemani Keke.

“Bagaimana ceritanya kamu bisa ada disini, Keke?” Tutu melebarkan matanya. Benar-benar ingin tahu.

Lalu dengan senang hati Keke menjelaskan semuanya. Menguraikan peristiwa yang membawanya hingga terpental ke dalam akar pohon.

“Sebenarnya, Keke adalah batu kerikil yang tinggal di atas bukit sana. Di tepi sebuah danau yang airnya berwarna hijau muda. Beberapa hari yang lalu, seekor burung manyar membawa kabar kepada kami tentang seorang nenek yang menetap di kaki bukit. Nenek itu tengah tertimpa musibah, rumahnya runtuh disapu angin. Kemudian, demi membantu nenek dan cucunya yang masih kecil, masyarakat sekitar bersepakat untuk bersama-sama mendirikan tempat tinggal agar sang nenek memiliki tempat bernaung. Mereka pun mengumpulkan uang agar bisa membeli bahan bangunan untuk dapat membangun satu rumah yang kokoh. Namun sayang, uang yang terkumpul tak cukup, lantaran mereka pun berasal dari keluarga yang kurang mampu.”

Keke tercenung. Ia selalu terharu tiap kali mengingat kisah tersebut.

“Lalu? Apa yang terjadi pada keluarga nenek itu?”

Keke melanjutkan ceritanya, “Menurut Burung Manyar, masyarakat desa tersebut kemudian menggunakan uang yang terkumpul untuk membeli bahan material yang tak bisa dicari. Sedangkan bahan-bahan lainnya seperti pasir dan bebatuan, mereka mencarinya sendiri.”

“Kemudian kalian terpikir untuk turut membantu nenek itu?” potong Mama Tupai.

“Benar sekali. Keke dan beberapa bebatuan memutuskan untuk ikut membantu mereka. Pagi tadi, ketika turun hujan deras yang disertai angin kencang, kami berguling-guling, menjatuhkan diri dari atas bukit. Kebanyakan dari kami bertubuh besar, sehingga dipastikan tak butuh waktu lama untuk tiba di dekat rumah penduduk. Sementara aku, karena terlalu mungil, justru kemudian malah tertiup angin, terhuyung-huyung tak keruan, dan akhirnya terperosok ke dalam akar pohon ini. Huhuhu.”

Mama Tupai trenyuh, “Jangan khawatir, Keke. Kami akan segera mengeluarkan kamu dari dalam sana.”

“Terima kasih.” lirih Keke, lalu ia mengalihkan pandangannya kepada Tutu. “Kenapa kamu bermuram durja begitu, Tutu?”

“Aku malu.”

“Malu?”

“Iya. Aku malu kepada kalian yang bisa menolong nenek dan masyarakat baik hati itu. Sementara aku tak bisa berbuat apa-apa. Kalian hebat. Kalian beruntung menjadi bebatuan.”

“Aku tidak hebat. Aku dan bebatuan yang lain hanya berusaha memberikan bantuan yang bisa kami berikan.”

“Dan kalian bisa membantu dengan menjadi bagian dari bahan bangunan.” sergah Tutu.

“Kamu benar. Tetapi tahukah? Semula kami pun sama sekali tak terpikir untuk meluncur ke kaki bukit agar mudah dijangkau manusia disana. Aku sendiri bahkan merasa iri pada masyarakat desa itu. Bayangkan betapa beruntungnya mereka. Dengan menjadi manusia, mereka bisa dengan mudah memberikan pertolongan pada keluarga nenek tersebut. Sementara aku? Aku hanyalah batu kecil yang tinggal di atas bukit. Seandainya aku ini manusia. Tentu akan ada banyak hal yang bisa aku lakukan. Namun kemudian terlintas dalam pikiranku, bahwa membantu itu bukan tentang siapa kita atau seberapa hebat kita, melainkan tentang apa yang bisa kita berikan dengan menjadi kita. Sementara semakin lama dalam pengandaian menjadi manusia, aku malah semakin tenggelam dalam penyesalan, dalam kenyataan bahwa aku hanya sebuah batu yang tak bisa membantu apa-apa.”

“Dan kini aku pun merasa begitu. Tenggelam dalam penyesalan.” suara Tutu terdengar lirih. Disampingnya, Mama Tupai tersenyum berusaha membesarkan hati anaknya.

“Tenang, Nak. Dari pada terhanyut dalam kenyataan bahwa kita ini ‘hanya sesuatu’, lebih baik memikirkan bantuan apa yang bisa kita berikan. Dan mendoakan yang terbaik adalah salah satunya.”

Keke mengangguk.

“Mamamu benar, Tutu. Bahkan kamu tetap bisa ikut membantu nenek itu dengan menjatuhkanku ke bawah bukit nanti!” kata Keke meyakinkan.

“Ide yang bagus! Nanti kami bisa melontarkan Keke dengan ketapel milik Tutu!” Mama Tupai mengiyakan.

Tutu pun sepakat. Begitupula Papa Tupai yang tiba sesaat kemudian dengan membawa sebuah ranting untuk menyelamatkan Keke.

“Sebelum berpisah, Keke ingin berterima kasih pada kalian. Papa Tupai, Mama Tupai dan Tutu, kalian sangat baik sekali. Terima kasih banyaaak. Maaf Keke sudah merepotkan. Cup cup mmmuuaah.”

Mereka menjawab salam perpisahan Keke dengan mendekapnya erat-erat.

“Sampai jumpa lagi, Keke.” bisik Tutu sesaat sebelum melontarkan Keke dengan ketapelnya.

Achmad Lutfi
Wolfsburg, 25.09.2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected!