Merawat Energi Positif

Pikiran manusia dapat berubah. Hati manusia dapat berganti. Hari ini meyakini A, boleh jadi esok tak sama lagi.

Kadang-kadang kita merasa ragu memposting kalimat atau kata-kata positif di laman media sosial, hanya karena merasa malu jika dilihat oleh sahabat kita yang amat sangat mengenal kita.

“Nanti kalau diledekin bagaimana?”

“Nanti kalau dicie-ciein bagaimana?”

“Nanti kalau dikira kode buat seseorang, kan malu!”

Ya. Kita sering sibuk oleh nanti-kata-orang-bagaimana. Padahal semuanya belum tentu terjadi. Pun kalau terjadi, memangnya kenapa? Sedikit-sedikit dianggap motivator tak apalah. Karena yang terpenting dari menulis kata-kata positif adalah perubahan pada diri kita sendiri. Perlahan demi perlahan.

Tidak percaya? Boleh saja.

Tapi mencobanya, itu perlu!

Dunia kita hari ini, informasi ada banyak sekali. Beredar dimana-mana. Tak cuma yang positif. Yang negatif dan hoaks juga bersaing untuk dibaca oleh banyak manusia. Maka tak heran kalau semakin banyak informasi, justru tidak membuat kita lantas mempunyai satu gagasan atau pikiran yang dalam, sebab banyak informasi adalah sampah.

Sikap kita terhadap informasi mestilah bijak. Harus selalu kita pilih dan pilah. Kata-kata dan kalimat yang kita baca dapat merubah suasana hati. Bahkan yang lebih jauh lagi, mereka dapat mengubah kesan dan pikiran kita tentang sesuatu.

Pengalaman semacam itu tentu pernah kita alami. Sadar atau tidak, itulah kuasa kata-kata.

Maka yang terpenting dari menuliskan kata-kata positif di laman media sosial kita adalah agar aura positif itu merasuk dan mempengaruhi penulis dan penggagasnya, yaitu diri kita sendiri.

Kita bukan sedang sok-sokan atau ingin dianggap sebagai motivator bijak, kita hanya ingin menjaga diri kita dari situasi hari-hari yang semakin kesini semakin menggoda untuk ke arah negatif. Di instagram kita lihat yang ganteng-ganteng, cantik-cantik, kaya raya, harta berlimpah, lama-kelamaan akan mendorong kita memiliki sikap materialistis. Hanya menilai sesuatu dari meteri. Dari tampilan luarnya.

Di twitter banyak orang saling caci dan mencela, saling membuka dan mengumbar aib sesama, lama-kelamaan akan membentuk kita sebagai pribadi yang pesimis, mudah berburuk sangka, sulit memberi kepercayaan pada orang lain dan mudah berkata kotor.

Begitulah. Godaan dimana-mana.

Maka daripada menunggu situasi berubah. Atau berharap kita hanya punya teman-teman yang positif. Lingkungan yang sehat. Kita juga perlu memulai dan membiasakannya dari diri sendiri.

Teruslah merawat energi positif. Pupuki dengan kata dan bacaan yang baik. Jauhi hati kita dari keduniawian yang terlalu. Dan ringankan kaki untuk melangkah pada sebab-sebab yang membuat kita senantiasa berakal sehat.

© achmadlutfi | 22 April 2019


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected!