Raksasa Itu Masih Lelap Dalam Mimpi

Banyak orang mengira bahwa ricuh dan perdebatan soal pilpres akan berakhir pada 17 April 2019. Nyatanya mereka keliru. Termasuk saya.

Pemilihan presiden sebagai pemimpin baru yang akan membawa Indonesia lima tahun ke depan adalah hal yang biasa. Terlepas dari baru sebagai sosok, atau sekadar baru sebagai jabatan untuk kali kedua. Pilpres yang dilakukan secara langsung pada tahun ini, juga bukan pilpres yang pertama, melainkan sudah yang ke-4 kalinya. Semestinya negara -sebagai penyelenggara- juga sudah jauh lebih profesional dengan segala perbaikan dan evaluasi dari tiga pemilihan sebelumnya.

Kenyataannya? Tidak demikian.

Ramai di media sosial orang berkomentar, bahwa pilpres 2019 adalah pilpres paling kacau. Apa sebabnya? Tak lain karena maraknya kecurangan yang jelas-jelas terjadi. Ini mengerikan, sekaligus menyedihkan.

Kepercayaan masyarakat adalah harta yang dimiliki oleh negara yang dapat menjadi energi luar biasa besar dalam mencapai kemajuan dan kesejahteraan. Tanpa kepercayaan, maka negara ini akan sibuk dan tenggelam dalam urusan-urusan menjawab ketidak percayaan tersebut.

Di saat negara lain sedang sibuk membangun peradaban dan berkompetisi di pentas dunia, apakah kita ingin hanya sibuk mengurusi hal paling mendasar yang seharusnya sudah kokoh dimiliki oleh negara dengan usia kemerdekaan 73 tahun?

Tidak. Indonesia tidak selayaknya menjadi embel-embel bagi peradaban dunia.

Negeri ini begitu besar. Kedudukannya adalah sebagai pemimpin dunia. Sebagaimana yang dicontohkan oleh pendahulu kita, saat mereka menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika dengan mendorong dan memberikan inspirasi bagi negara-negara yang masih dikungkung oleh penindasan dan penjajahan.

Itulah Indonesia yang dilahirkan 73 tahun yang lalu.

Kesibukan kita memuji-memuji kekayaan alam negeri sendiri, membuat kita abai untuk mempertajam keahlian agar pengelolaan kekayaan tersebut dilakukan dengan kemandirian. Kita larut dalam ketakjuban akan ledakan demografi, namun tak mengacuhkan pendidikan. Sehingga kebodohan-kebodohan bangsa sendiri semakin mengerak dan menciptakan kemiskinan yang menjadi sistem.

Betapa harta adalah ujian.

Betapa kepemilikan adalah benar-benar titipan. Bukan sekedar untuk mengingatkan pada kita agar bersyukur, tapi juga pesan agar kita mengelolanya, memanfaatkannya, untuk kebaikan bagi semesta alam. Sementara berhenti pada ketakjuban atas apa yang kita miliki, selamanya hanya akan membuai kita untuk terus lelap dalam mimpi dan angan-angan.

Maka dalam riuh dan ramainya suara-suara tentang kecurangan pemilu ini, semoga negara kita tetap terjaga. Semoga yang terpilih adalah pemimpin terbaik. Ia mengembalikan kepercayaan rakyat dan bangsa. Membawa alam pikiran mereka untuk melangkah lebih jauh. Untuk terbang lebih tinggi. Mengurai masalah-masalah yang lebih fundamental. Menjadi jawaban atas persoalan bangsa-bangsa yang masih tertindas. Penengah atas negeri-negeri yang berperang. Sehingga Indonesia mencapai cita-citanya dalam melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Bangunlah wahai raksasa yang masih terlelap!

© achmadlutfi | 22 April 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected!