Work Life Balance

Hidup bukan hanya untuk bekerja dan menghabiskan waktu di kantor. Melainkan juga untuk membersamai keluarga. Mengaktualisasi hobi. Travelling. Dan hal menyenangkan lainnya.

Cukup sering saya mendengar bahwa tidak semua negara di dunia ini memperhatikan kehidupan tenaga kerja mereka. Lebih banyak fokus kepada hak-hak pengusaha, para pemilik uang, penyelenggara bisnis, sementara soal work life balance para buruh dan pekerja mereka, masih di nomor sekian.

Ini adalah tahun ke-5 saya bekerja di Jerman. Saya belum pernah bekerja di tanah air, karena karir saya dimulai di negara ini persis setelah lulus dari kampus. Maka dalam benak saya, kehidupan seorang pekerja adalah seperti yang saya alami.

Di Jerman, rata-rata orang bekerja selama 40 jam dalam satu pekan. Ada juga yang kurang dari itu. Selama 40 jam itu, kita bisa mengatur sendiri pembagiannya. Kita boleh menjalani 8 jam setiap senin-jumat, namun banyak juga yang sengaja menghabiskan waktu lebih lama pada hari senin-kamis, supaya hari jumatnya bisa pulang lebih awal.

Jika suatu waktu tugas kita sedang overload, tentu kita bisa lembur. Dan menariknya, setiap jam waktu lembur kita akan terkumpul dan dapat kita gunakan suatu waktu jika kita ingin pulang lebih awal. Bahkan kita bisa ambil cuti apabila waktu lembur yang terkumpul sudah 8 jam atau lebih banyak dari itu. Karena satu hari kerja dihitung 8 jam.

Ketika cuti, jangan khawatir kita akan terganggu dengan deringan telepon atau keharusan mengecek email yang masuk untuk membicarakan tentang kerjaan. No! Siapapun yang sedang cuti, ia berhak meninggalkan pekerjaannya sama sekali. Tidak boleh diganggu, karena karyawan yang sedang berlibur dianggap sedang mengistirahatkan dirinya agar tidak stres dan dapat kembali bekerja dengan kondisi jiwa raga yang fit. Sehingga ia dapat menyelesaikan tugas dengan optimal.

Di Jerman, kita dituntut menyelesaikan tugas tepat waktu. Bekerja secara efektif dan efisien. Kita berhak menyampaikan kondisi dan keadaan yang sekiranya dapat membantu memaksimalkan tugas-tugas yang ada. Misalnya jika beban terlalu banyak, sampaikan. Jika ada kesulitan yang tak kunjung menemukan solusinya, sampaikan. Komunikasi adalah hal mendasar agar setiap tugas selesai dengan baik. Dan tentu saja, agar kita bisa pulang tepat waktu!

Waktu yang kita berikan untuk menyelesaikan tugas -setiap jam dan menitnya- adalah harga yang harus dibayar oleh perusahaan. Maka dari itu, proyek yang kita terima mesti berjalan lancar dan tepat waktu.

Belum lagi hak cuti setelah kelahiran anak. Ayah atau pun Ibu sama-sama punya hak cuti (di luar hak cuti tahunan), agar dapat menemani perkembangan anak. Biasanya kita bisa cuti selama 2 sampai 36 bulan, namun dengan konsekuensi kita tidak memperoleh 100% gaji. Tapi tetap saja itu opsi yang menarik. Terlebih bagi Ibu yang harus menyusui. Miris rasanya mendengar wanita yang harus memompa ASI mereka, karena tak punya waktu, harus segera kembali bekerja, dan juga tak punya pilihan lain. Padahal proses menyusui itu sendiri adalah kebutuhan bayi. Ia perlu bersentuhan dengan ibunya dan itu jauh lebih baik.

Meskipun kita punya kewajiban sebagai seorang karyawan, tetapi kita juga punya hak-hak dasar selaku individu. Kita punya keluarga. Punya anak. Yang mana kita juga perlu waktu untuk membersamai mereka.

Intinya adalah work life balance harus terjaga.

Saya harap, hal-hal seperti ini suatu saat akan menjadi perhatian penting pemerintah Indonesia. Entah apa saja yang harus dipertimbangkan agar kebijakannya berjalan lancar. Yang pasti kemajuan sebuah negara perlu memperhatikan kebahagiaan manusianya. Dan kebahagiaan manusia antara lain terletak pada seimbangnya hidup dan pekerjaan mereka.

Dan saya bermimpi, jika kelak pulang ke Indonesia, dapat membangun sebuah usaha mandiri pada bidang yang saya senangi. Mungkin bukan sebuah industri besar, namun harapannya ia tak hanya menjadi tempat saya berkarya, melainkan juga tempat saya berbagi lapangan pekerjaan yang layak dan menjaga keseimbangan hidup manusia, seutuhnya.

Saya percaya, jiwa manusia yang sehat dan bahagia akan melahirkan kesungguhan untuk berkarya sebaik-baiknya.

© achmadlutfi | 24 April 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected!